Showing posts with label masa lalu. Show all posts

Saturday, July 13, 2013

0

Roti Selai Stroberi-begitu katamu

Posted in , , , , ,
Wednesday, July 3, 2013  15:27

Terpaku dengan secarik kertas putih. Tergenggam pensil kecil dan aku mulai melukis.
            Aku perlu tahu, apakah kenangan-kenangan itu masih terukir jelas diingatannya, seperti apa yang sedang kukenang saat ini? Masihkah dia menempatkanku pada salah satu orang terpenting di hidupnya? Karena aku pun begitu.
            Lihatlah, tanpa kita sadari, kau dan aku dipertemukan di tempat yang sama. Tempat di mana kau dan aku sama-sama belum merasakan kebahagiaan yang nyata.
            Dan bagaimana waktu telah mempersatukan kita sebagai sahabat.
            Aku melukiskan apa yang ingin kulukis. Gambar itu begitu mengingatkanku saat kita bersama-sama. Saat hujan tiba, dan kita terperangkap pada tempat yang bukan rumahku ataupun rumahmu. Kau merentangkan payungmu dan mengajakku pulang. Andai kautahu, saat itu aku benar-benar merasa nyaman meski di bawah derasnya hujan. Karena ada kamu, yang membawaku pulang.
            Aku mengingat sebagian kenangan-kenangan yang kita lalui bersama. Maafkan aku yang tak bisa mengingat semua.
            Saat itu aku melihatmu begitu asik dengan teman-temanmu, bermain Mario Bross. Dan saat itu di mana aku menghabiskan banyak waktu berada di rumahmu. Meskipun akhirnya aku terabaikan, dan pulang.

Tuesday, May 28, 2013

0

Segenggam Masa Lalu

Posted in , ,

Dec. 2012

“Dandelion ini memang lemah. Namun mereka tidak hanya pasrah. Dan kamu percaya? Mereka itu adalah pejuang sejati.”
         Callysta menggeleng pelan. Mulutnya masih terkunci rapat. Tersirat simpul manis pada bibirnya.
        “Sekuat apapun benih-benih itu ingin tetap tinggal, tapi angin lebih kuat menerbangkannya ke langit luas. Angin membawanya pergi jauh dari habitatnya, namun dengan pappus-pappus[1] lembutnya mereka mampu bertahan, dan menemukan pelabuhan yang tepat untuk kehidupan barunya.”
          “Tapi, dandelion itu pasti kembali?”
         Reyhan terdiam. Sorot matanya menatap Callysta tajam, seakan-akan mengunci pandangannya dalam percakapan yang mereka ciptakan di telaga itu.
          Perlahan tangan Reyhan meraih satu pucuk dandelion yang mekar di hadapan mereka. Meniupkannya, dan pappus-pappus[1] lembut itupun beterbangan seiring hembusan angin yang ikut mengisi kebahagiaan mereka kala senja itu.
            Reyhan tersenyum, “pasti.”


Baca selanjutnya DOWNLOAD